Sektor Pertanian Berjalan Mundur
Anggaran Deptan Tidak Efektif
Jumat, 17 April 2009 | 04:36 WIB
Jakarta, Kompas – Pembangunan pertanian dalam lima tahun terakhir berjalan mundur. Departemen Pertanian kehilangan visi jangka panjang dalam membangun sektor pertanian dan terjebak pada penanganan masalah yang serba mendesak.
”Sudah lama kita mengembangkan pemikiran membangun sistem dan usaha agrobisnis dengan membangun sektor hulu-hilir dan jasa penunjang secara bersama-sama, tetapi tidak berlanjut. Konsentrasi pembangunan pertanian lima tahun terakhir hanya pada tingkat on farm,” kata mantan Mentan Bungaran Saragih pada workshop bertema ”Mencari Alternatif Pembiayaan Pertanian”, Kamis (16/4)
Menurut Bungaran, karena kehilangan visi jangka panjang, pembangunan pertanian akhirnya terjebak dan bersifat musiman. ”Ketika ada banjir dan kekeringan terkejut, ada impor atau ekspor ramai. Masalah pertanian jangka panjang tidak menjadi prioritas,” katanya.
Sementara itu, Dirjen Anggaran Departemen Keuangan Anny Ratnawati mengungkapkan, anggaran untuk sektor pertanian ada dan alokasinya juga besar. Hanya pemanfaatan anggaran itu yang masih belum optimal.
Data Ditjen Anggaran menunjukkan, alokasi anggaran untuk belanja pupuk tahun 2009 sebesar Rp 17,5 triliun atau naik sekitar Rp 15,5 triliun dibandingkan tahun 2005. Anggaran subsidi benih tahun ini naik menjadi Rp 1,3 triliun dari tahun 2005 yang hanya Rp 120 miliar.
Pengeluaran anggaran
Alokasi anggaran untuk kegiatan bantuan sosial Deptan naik dari Rp 217 miliar tahun 2005 menjadi Rp 3,2 triliun tahun 2009. Subsidi kredit ketahanan pangan dan energi juga naik dari Rp 167 miliar menjadi Rp 843 miliar. Total anggaran untuk pertanian bahkan mencapai Rp 40 triliun tahun ini.
”Pertanyaannya, pengeluaran anggaran berlipat-lipat itu komparabel atau tidak dengan produktivitas dan produksi pertanian. Karena ini akan ditanya masyarakat,” katanya.
Deptan pernah meminta anggaran untuk subsidi kredit pembibitan sapi Rp 1 triliun. ”Ketika disediakan dananya, mereka menawar agar Rp 1 triliun untuk lima tahun saja. Lalu menawar turun menjadi Rp 250 miliar, tetap tidak bisa, akhirnya minta Rp 145 miliar saja. Bayangkan coba!” ujar Anny. (MAS)
Indonesian Agriculture not moving ? my take …..
The outline of Indonesia agriculture development program on the government book has been about creating an impression of “sucess” in one term of Minister Duty.
Ever since BIMAS, INMAS, INSUS , KUT , and whole a lot other program mainly based on financing, one or two season , increasing production and campaign about it ……. booom , sucess.
For the last ten years, money, money , money, capital, in form of lending, or even free gift , its all about money. I would not talk about the ‘deviation, numbers or manipulations …, thats already a public secret !.
The current situation is mainly because the higly political related position that tied to the position of Minister of Agriculture. When a new MOA come, they will create a new program, new parameters and forgot to evaluate old program , forget to really search for the real root of a strong agriculture country.
Where are the infrastucture ?, have the goveremnt manage to improve the coverage of irigation ?, have the goverment have a long term plan of what are the commodities to focus on, have they support the development with new applicable simple technology for the farmer, have the goverment support the farmer with the soil fertility data, climate data, mappings etc.
Do the farmers have the assurance of continues supply of high quality seed, fertilizers, do the farmer have information from the industry ?, of what and when are the commodities needed.
I know somehow thoose are already adress in goverment development program, but my question remain the same, are we looking for sucess parameters based on single season or one year ? then bragg about it ? rather than a continues independent plan for the better live of farmer sustainably ?.




The Ministry of Commercial had not allowed the export of 10,000 tons per month premium class rice that Perum Bulog propose yet.
“Genetic modification of crops is not some kind of witchcraft; rather, it is the progressive harnessing of the forces of nature to the benefit of feeding the human race.”

Pertumbuhan Ekonomi Sektor Pertanian Bakal Meningkat Senin, 16 Februari 2009 | KOMPAS JAKARTA, SENIN — Pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian, pada triwulan pertama tahun 2009, mempunyai harapan meningkat. Hal tersebut dikatakan oleh Rusman Hariawan, kepala BPS. ”Dengan adanya panen raya yang akan terjadi pada bulan Maret mendatang, pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian akan meningkat. Banjir tidak akan berpengaruh terlalu banyak,” jelas Rusman kepada para wartawan, di kantor BPS Jakarta, Senin (16/2). Meningkatnya pertumbuhan ekonomi pada sektor pertanian memberi dampak psikologis yang baik pada semester II dan III.’ ‘Jika pada semester I sudah memberikan pengaruh yang positif, maka pada semester selanjutnya akan positif juga,” jelas Rusman. Pada akhir triwulan, yaitu pada semester IV, biasanya sektor pertanian akan mengalami penurunan. “Ini seperti siklus saja. Pada semester ke IV, tahun 2008 kemaren, sektor pertanian mengalami penurunan yang cukup signifikan, sekitar minus 22,9 persen” tutur Rusman lagi.